Jakarta, infopasar.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali bergerak melemah pada perdagangan hari Rabu, 13 Mei 2026.
Berdasarkan data pasar spot, mata uang Garuda sempat dibuka mengalami rebound tipis ke level Rp17.515 per dolar AS, namun pergerakannya langsung berbalik arah dan melemah hingga menyentuh kisaran Rp17.530 per dolar AS pada pagi hari.
Tekanan hebat yang melanda rupiah ini membawa nilai tukar mata uang domestik bertahan di level terlemah sepanjang sejarah.
Pelemahan tajam mata uang rupiah didorong oleh pengumuman resmi rebalancing indeks oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) periode Mei 2026.
Dalam laporan terbarunya, MSCI secara resmi mengeluarkan 13 saham perusahaan asal Indonesia dari Global Small Cap Index.
Kondisi ini langsung memicu kekhawatiran pasar akan potensi terjadinya arus modal asing keluar (capital outflow) secara masif dari pasar keuangan dalam negeri.
Selain faktor sentimen MSCI, posisi rupiah semakin terpuruk akibat memanasnya data inflasi di Amerika Serikat.
Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk bulan April 2026 tercatat melonjak hingga 3,8% secara tahunan.
Angka inflasi yang panas ini membuat para pelaku pasar global berspekulasi bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang jauh lebih lama.
Kondisi eksternal diperparah oleh memanasnya kembali situasi geopolitik di Timur Tengah akibat konflik antara AS dan Iran yang belum menemui titik temu.
Dampak dari ketegangan tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah dunia, mengingat adanya hambatan operasional dan penutupan jalur perdagangan di Selat Hormuz.
Kenaikan harga energi global ini mendorong para investor dunia untuk mengalihkan aset mereka ke mata uang yang dianggap lebih aman (safe-haven), seperti dolar AS.
Dari sisi internal, kondisi ekonomi dalam negeri turut memberi andil terhadap pelemahan nilai tukar rupiah.
Sektor manufaktur Indonesia pada April 2026 dilaporkan mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan terakhir.
Penurunan kinerja manufaktur ini disebabkan oleh rendahnya permintaan pasar pasca-liburan serta adanya gangguan rantai pasok global yang belum sepenuhnya pulih.
Tekanan musiman domestik juga ikut menyedot ketersediaan likuiditas valuta asing di pasar riil.
Pada periode kuartal kedua seperti sekarang, terdapat lonjakan kebutuhan mata uang dolar AS di dalam negeri untuk keperluan pembayaran utang luar negeri, pembayaran dividen korporasi kepada investor asing, serta kebutuhan biaya operasional ibadah haji.
Kombinasi permintaan valas yang melonjak tinggi ini otomatis membuat nilai tukar rupiah semakin terdepresiasi.
Menyikapi kemerosotan rupiah, Bank Indonesia (BI) bersama Menteri Keuangan terus bersiap mengaktifkan berbagai instrumen stabilisasi pasar keuangan.
Otoritas moneter menegaskan akan melakukan intervensi secara konsisten, baik di pasar spot, transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga melakukan intervensi pada pasar Surat Berharga Negara (SBN).
Langkah taktis ini diambil guna meredam volatilitas nilai tukar yang berlebihan dan mengembalikan nilai tukar rupiah ke level fundamentalnya.














