Jakarta, infopasar.id – Pergerakan harga sejumlah komoditas pangan pokok di pasar tradisional nasional menunjukkan tren kenaikan yang signifikan pada awal bulan ini.
Berdasarkan data pemantauan dari ‘Panel Harga Badan Pangan Nasional Dan PIHPS BI’ harga per 1 Juni, lonjakan paling mencolok terjadi pada sektor bumbu dapur, khususnya cabai rawit merah yang kini menyentuh angka Rp76.750 per kilogram.
Tidak hanya itu, komoditas hortikultura lainnya seperti cabai merah besar dan cabai merah keriting juga ikut bertahan di tingkat harga yang tinggi, masing-masing dibanderol seharga Rp63.800 dan Rp62.650 per kilogram, sementara bawang merah ukuran sedang dijual pada kisaran Rp49.250 per kilogram.
Sektor komoditas sumber protein hewani juga terpantau mengalami penyesuaian harga yang cukup membebani kantong konsumen.
Harga daging sapi kualitas 1 kini berada di angka Rp145.050 per kilogram, disusul oleh daging sapi kualitas 2 yang bertengger di harga Rp137.350 per kilogram.
Sementara itu, untuk pemenuhan protein harian yang lebih terjangkau, masyarakat harus menebus daging ayam ras segar dengan harga Rp41.250 per kilogram dan telur ayam ras segar seharga Rp30.150 per kilogram.
Di sisi lain, harga bahan pangan pokok dan kebutuhan dapur utama seperti beras dan minyak goreng terpantau bervariasi tergantung pada klasifikasi kualitasnya.
Beras kualitas super I saat ini dipatok Rp17.150 per kilogram, sedangkan untuk varian beras kualitas medium I berada di angka Rp16.000 per kilogram dan beras kualitas bawah dipasarkan mulai dari Rp14.200 per kilogram.
Untuk kebutuhan logistik rumah tangga lainnya, minyak goreng kemasan bermerek 1 dijual seharga Rp21.000 per kilogram, sementara minyak goreng curah bertahan di posisi Rp19.050 per kilogram.
Kenaikan harga ini mulai memicu kekhawatiran di kalangan pedagang pasar tradisional dan konsumen karena dinilai dapat menurunkan daya beli masyarakat secara keseluruhan.
Gula pasir lokal yang kini berada di harga Rp18.200 per kilogram serta bawang putih ukuran sedang seharga Rp38.200 per kilogram turut menambah daftar panjang komoditas yang mengalami tekanan harga.









