Jakarta, infopasar.id – Kondisi ruang dagang di sejumlah pasar tradisional hari ini, Rabu, 11 Juni 2026, kian diselimuti kelesuan mendalam akibat lonjakan harga barang pokok yang tak kunjung mereda.
Para pedagang mengeluhkan sepinya pembeli yang dipicu oleh merosotnya daya beli masyarakat secara drastis dalam beberapa pekan terakhir.
Di tengah situasi pelik tersebut, rencana pemerintah untuk menaikkan Harga Eceran Tertinggi (HET) Minyakita justru memicu gelombang polemik baru di tengah masyarakat.
Minyak goreng bersubsidi yang awalnya diluncurkan sebagai solusi bagi masyarakat kelas bawah ini kini posisinya makin diperdebatkan.
Kebijakan penyesuaian harga tersebut dinilai kurang tepat momentum mengingat kondisi ekonomi akar rumput sedang tidak baik-baik saja.
Realitas di lapangan bahkan menunjukkan kondisi yang jauh lebih memprihatinkan bagi para konsumen pinggiran.
Keberadaan Minyakita di pasar-pasar tradisional saat ini terpantau sangat langka dan sulit ditemukan oleh warga.
Kelangkaan pasokan yang terjadi selama berhari-hari ini memaksa masyarakat beralih mencari alternatif lain yang sayangnya dibanderol dengan harga jauh lebih tinggi.
Ironisnya, ketika stok Minyakita tersebut tersedia di beberapa lapak dagangan, harganya sudah melambung tinggi melampaui aturan resmi.
Banyak pedagang terpaksa menjual minyak subsidi tersebut di atas batas harga yang ditetapkan pemerintah saat ini dengan alasan modal dari distributor sudah tinggi.
Hal ini membuat fungsi pengawasan HET dari pihak terkait dipertanyakan efektivitasnya oleh publik.
Kenaikan harga barang primer yang terjadi secara beruntun ini jelas berimplikasi langsung pada penurunan daya beli masyarakat yang kian nyata.
Lapisan masyarakat menengah ke bawah menjadi pihak yang paling terpukul karena pendapatan mereka tidak sebanding dengan laju inflasi pangan.
Banyak kepala keluarga yang terpaksa memutar otak lebih keras hanya untuk memenuhi kebutuhan meja makan sehari-hari.
Para pedagang di pasar tradisional pun ikut menjerit karena omzet harian mereka merosot hingga setengahnya akibat penurunan transaksi ini.
Mereka terjebak dalam dilema besar antara harus menaikkan harga demi menutup modal atau mempertahankan harga lama dengan risiko merugi.
Situasi ini diperparah dengan kekhawatiran bahwa pasar tradisional akan semakin ditinggalkan oleh pelanggan setianya.
Menyikapi sengkarut ini, publik sangat berharap pemerintah segera mengambil langkah taktis untuk menstabilkan pasokan dan harga di pasar.
Diperlukan intervensi pasar yang nyata, audit rantai distribusi Minyakita secara menyeluruh, serta penundaan kebijakan kenaikan HET hingga daya beli masyarakat kembali pulih.









