Jakarta, infopasar.id – Harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia mengalami perubahan signifikan menyusul kebijakan penyesuaian harga massal yang diberlakukan oleh para penyedia energi.
PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya, PT Pertamina Patra Niaga, resmi mengerek harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) menjadi Rp16.250 per liter.
Kenaikan drastis ini mulai berlaku di seluruh jaringan SPBU nasional sejak pertengahan pekan dan masih menjadi sorotan utama hingga hari ini, Kamis (11/6/2026).
Kenaikan kali ini tergolong sangat tinggi karena harga Pertamax melonjak sebesar Rp3.950 per liter dari tarif sebelumnya yang berada di angka Rp12.300 per liter.
Langkah serupa juga menimpa produk Pertamax Green 95 (RON 95) yang melesat naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Pihak manajemen Pertamina menyatakan bahwa keputusan berat ini harus diambil setelah melalui mekanisme evaluasi berkala dan koordinasi intensif bersama pemerintah selaku regulator.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan ada beberapa faktor utama yang memicu lonjakan harga keekonomian BBM nonsubsidi ini.
Di antaranya adalah ketegangan geopolitik global yang memicu kenaikan harga minyak mentah dunia, fluktuasi tajam nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS, serta membengkaknya biaya distribusi energi dalam negeri.
Penyesuaian ini dipandang krusial demi menjaga stabilitas bisnis dan keberlanjutan pasokan energi berkualitas ke seluruh pelosok negeri.
Meski lini RON 92 dan RON 95 meroket, Pertamina memastikan harga komoditas BBM bersubsidi tidak mengalami perubahan demi menjaga daya beli masyarakat kelas bawah.
Bahan bakar jenis Pertalite tetap bertahan pada harga Rp10.000 per liter, begitu pula dengan Bio Solar yang stabil di angka Rp6.800 per liter.
Produk nonsubsidi kelas atas lainnya seperti Pertamax Turbo (Rp20.750/liter), Dexlite (Rp23.000/liter), dan Pertamina Dex (Rp24.800/liter) juga dilaporkan tidak mengalami penyesuaian harga pada periode ini.
Kebijakan menaikkan harga BBM jenis RON 92 ternyata tidak hanya dilakukan oleh perusahaan pelat merah.
Sejumlah korporasi penyedia BBM swasta, seperti BP-AKR dan VIVO Indonesia, terpantau kompak mengerek tarif operasional mereka secara serentak.
Di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, produk BP 92 dan Revvo 92 kini sama-sama dibanderol pada angka Rp16.670 per liter, sedangkan varian RON 95 dari kedua swasta tersebut kompak menyentuh level Rp17.240 per liter.
Dampak dari penyesuaian harga yang mendadak ini langsung memicu reaksi beragam dan kepanikan minor di kalangan masyarakat.
Sejumlah pengamat ekonomi mengingatkan bahwa kelompok masyarakat kelas menengah merupakan pihak yang paling terbebani dari naiknya tarif bensin non-subsidi tersebut.
Mereka tidak memenuhi syarat untuk mengakses BBM bersubsidi, namun di sisi lain pendapatan mereka ikut tergerus drastis untuk menutupi pembengkakan ongkos transportasi harian.
Sebagai langkah antisipasi, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) meminta pemerintah beserta Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) untuk memperketat pengawasan di lapangan.
Hal ini penting guna mencegah terjadinya migrasi massal konsumen Pertamax ke Pertalite yang dapat memicu kelangkaan BBM subsidi.









