Jakarta, infopasar.id – Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda telah memicu gejolak signifikan di pasar energi internasional.
Kebuntuan diplomatik ini semakin diperburuk oleh aksi saling serang di jalur maritim strategis, yang menyebabkan harga minyak mentah dunia melonjak tajam.
Para analis pasar kini memperingatkan bahwa tren penguatan harga ini diprediksi akan terus bertahan stabil di atas level psikologis $100 per barel.
Kekhawatiran global saat ini tertuju pada Selat Hormuz, jalur distribusi energi paling vital di dunia yang sempat terhambat akibat eskalasi militer.
Ancaman penutupan atau gangguan arus lalu lintas kapal tanker di wilayah tersebut telah menciptakan kepanikan terhadap ketersediaan pasokan minyak mentah global.
Kondisi ini menyebabkan minyak jenis Brent dan West Texas Intermediate (WTI) terus merangkak naik seiring dengan kekhawatiran investor akan kelangkaan stok dalam jangka panjang.
Kenaikan harga minyak yang tak terkendali ini mulai memberikan tekanan berat pada biaya energi di berbagai belahan dunia, memicu lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di tingkat retail.
Sektor transportasi dan industri menjadi pihak yang paling terdampak, di mana kenaikan biaya operasional mulai membebani efisiensi bisnis.
Di banyak negara, konsumen mulai merasakan dampak langsung pada harga kebutuhan pokok yang ikut terkerek naik akibat beban distribusi yang membengkak.
Dampak sistemik dari krisis energi ini telah memicu kekhawatiran serius mengenai ancaman inflasi global yang bisa menghambat pertumbuhan ekonomi pascapandemi.
Para ahli ekonomi memperingatkan bahwa jika harga minyak tetap berada di atas $100 per barel untuk waktu yang lama, daya beli masyarakat akan tergerus secara drastis.
Bank-bank sentral di berbagai negara kini berada dalam posisi sulit untuk menentukan kebijakan suku bunga guna meredam laju inflasi yang kian tak terhindarkan.
Di Indonesia, pemerintah terus memantau fluktuasi harga ini dengan cermat karena berdampak langsung pada beban subsidi dalam APBN.
Meskipun harga BBM bersubsidi sejauh ini masih diupayakan tetap stabil, tekanan dari pasar global memaksa adanya penyesuaian pada harga BBM nonsubsidi.
Potensi efek domino yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi nasional jika konflik di Timur Tengah tidak segera mencapai solusi damai.














