Jakarta, infopasar.id – Memasuki pekan pertama Mei 2026, harga minyak goreng di berbagai pasar tradisional dan ritel modern terpantau stabil meski harga CPO global sempat mengalami gejolak.
Berdasarkan pantauan data Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) pada Rabu (6/5/2026), rata-rata harga minyak goreng curah nasional berada di angka Rp16.200 per liter.
Kondisi ini menunjukkan keberhasilan pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara kuota ekspor dan pemenuhan kebutuhan dalam negeri (DMO) yang tetap konsisten sejak awal tahun.
Di pasar ritel modern, minyak goreng kemasan bermerek (Premium) juga tidak mengalami perubahan harga yang signifikan dibandingkan bulan sebelumnya.
Rata-rata harga kemasan dua liter dibanderol antara Rp38.500 hingga Rp42.000 tergantung pada merek dan lokasi penjualan. Para pedagang menyebutkan bahwa stok dari distributor mengalir lancar tanpa ada kendala logistik, sehingga minim potensi terjadinya kelangkaan yang dapat memicu lonjakan harga di tingkat konsumen akhir.
Sementara itu, minyak goreng program pemerintah, Minyakita, tetap menjadi primadona masyarakat dengan harga yang masih terjaga sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) terbaru sebesar Rp15.700 per liter.
Meski sempat ada isu penyesuaian harga akibat kenaikan biaya kemasan plastik di pasar global, Kementerian Perdagangan memastikan bahwa subsidi distribusi tetap berjalan normal.
Ketersediaan stok Minyakita di pasar-pasar induk dilaporkan cukup untuk memenuhi permintaan rumah tangga hingga tiga bulan ke depan.
Pengamat ekonomi energi memprediksi stabilitas harga ini akan bertahan hingga akhir kuartal kedua tahun 2026, asalkan kondisi cuaca di area perkebunan sawit tetap kondusif bagi masa panen.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aksi borong (panic buying) karena cadangan minyak goreng nasional saat ini berada dalam posisi yang sangat aman.
Pengawasan di tingkat pasar terus diperketat oleh Satgas Pangan untuk mencegah adanya praktik penimbunan oleh spekulan.














