Banten, infopasar.id – Dedi Sudarajat, S.H., M.H., M.M., C.T.A., membuktikan bahwa perjuangan buruh tidak lagi hanya mengandalkan orasi di jalanan, melainkan kekuatan argumen di meja diplomasi.
Memulai debut menonjolnya sebagai Ketua DPD KSPSI Banten pada Oktober 2017, latar belakangnya sebagai advokat langsung menjadi pembeda.
Saat gelombang Omnibus Law UU Cipta Kerja memicu kontroversi nasional, Dedi memosisikan diri sebagai edukator hukum bagi akar rumput.
Sosok figur yang hangat dan murah senyum, membedah pasal-pasal krusial seperti PKWT dan formula pesangon, mengubah resistensi buruh menjadi gerakan yang kritis, terukur, dan berbasis data hukum.
Ketangguhan kepemimpinan Dedi diuji lewat dinamika politik internal organisasi yang pelik.
Ketika elite pusat didera badai perpecahan, loyalitas basis massa di tingkat daerah justru mengkristal di sekelilingnya.
Hal ini terbukti pada September 2022, saat ia terpilih kembali secara aklamasi untuk memimpin DPD KSPSI Banten periode 2022-2027.
Kepercayaan mutlak ini berulang pada Munas III FSP KEP KSPSI di Kota Tangerang pada November 2025, yang mengukuhkannya sebagai Ketua Umum PP FSP KEP KSPSI periode 2025-2030.
Dominasi aklamasi ini menjadi sinyal kuat bahwa gaya kepemimpinannya yang stabil sangat dibutuhkan di tengah turbulensi organisasi.
Dedi Sudarajat sebagai sosok pemimpin yang hangat, persuasif, ramah, namun tetap memiliki integritas tinggi dan disegani di meja perundingan.
Di balik ketatnya dunia perburuhan yang identik dengan ketegangan, Dedi Sudarajat, S.H., M.H., M.M., C.T.A., hadir membawa warna yang berbeda.
Alih-alih menampilkan kesan kaku sebagai advokat dan pemimpin buruh, Dedi justru selalu membuka pintu komunikasi yang ramah bagi siapa saja, mulai dari pekerja pabrik di akar rumput hingga para pengurus basis yang membutuhkan ruang dengar.
Karakter personal Dedi yang bersahabat menjadi modal utama dalam mencairkan kebuntuan politik ketenagakerjaan.
Memasuki periode kepemimpinan barunya, Dedi membawa visi besar, “Transformasi Serikat Pekerja untuk Menciptakan Ekosistem Kerja yang Kondusif, Produktif, dan Berkeadilan”.
Fokus utamanya kini bergeser ke masa depan, yakni mempersiapkan buruh menghadapi era digitalisasi dan otomatisasi industri. Meningkatkan keahlian teknologi pekerja agar tidak tergilas otomatisasi.
Membuka ruang audiensi lebar dengan pemerintah tanpa menghilangkan sikap kritis. Benteng Kesejahteraan yang Adaptif, Bagi Dedi, modernisasi organisasi tidak akan mengikis marwah dasar serikat pekerja.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, ia berkomitmen menyelaraskan produktivitas industri dengan pemenuhan hak normatif buruh.
Pendekatan ini diterapkan nyata saat mengawal perumusan UMK di Banten, di mana ia menuntut penyesuaian upah berdasarkan realita lapangan seperti kenaikan harga BBM, namun tetap bergerak dalam koridor regulasi yang sah.
KSPSI di bawah komandonya kini bertransformasi menjadi benteng pertahanan yang tidak hanya tangguh, tetapi juga cerdas secara hukum dan adaptif terhadap zaman.
Tantangan pengupahan ke depan dipastikan semakin rumit seiring hadirnya era otomatisasi dan digitalisasi industri yang berpotensi menekan nilai tawar upah buruh kasar.
Menghadapi ancaman ini, Dedi tidak tinggal diam. Ia mengintegrasikan perjuangan upah dengan peningkatan literasi hukum dan kapasitas digital bagi pengurus di tingkat basis.
Dengan meningkatkan kompetensi buruh, KSPSI memastikan bahwa perlindungan upah berkeadilan berjalan selaras dengan produktivitas modern, menjadikan organisasi ini sebagai benteng pertahanan ekonomi pekerja yang adaptif dan disegani.
Ia berulang kali membuktikan bahwa ketegasan memperjuangkan hak buruh tidak harus disampaikan dengan kemarahan. Pendekatan persuasif dan gaya komunikasinya yang santun namun berisi berhasil memosisikan KSPSI sebagai mitra strategis yang disegani oleh pemerintah dan pengusaha.
Bagi Dedi, aksi demonstrasi di jalanan adalah pilihan terakhir, jika ruang audiensi dibuka dengan penuh rasa saling menghormati, solusi terbaik pasti bisa dicapai demi kesejahteraan bersama.









