Jakarta, infopasar.id – Berdasarkan data pasar Reuters, harga minyak mentah Brent melemah sebesar 24 sen atau 0,33 persen ke level 71,88 dollar AS per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ikut tergelincir 11 sen atau 0,16 persen menuju posisi 68,58 dollar AS per barel pada pembukaan pekan ini.
Faktor utama yang menekan pergerakan harga minyak hari ini adalah keputusan dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak beserta sekutunya atau OPEC+.
Dalam pertemuan daring yang digelar pada hari Minggu, kelompok tersebut sepakat untuk menaikkan target produksi kolektif sebesar 188.000 barel per hari mulai Agustus 2026.
Langkah pelonggaran ini diambil secara bertahap demi menjaga stabilitas pasar pasokan energi global sekaligus merespons normalisasi industri setelah pembatasan ketat beberapa bulan lalu.
Pemulihan Jalur Distribusi Selat Hormuz Kurangi Kekhawatiran Pasar
Selain kebijakan kuota OPEC+, merosotnya harga komoditas ini juga dipicu oleh lancarnya kembali arus lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz.
Ekspor minyak mentah dari negara-negara kawasan Teluk tercatat mulai pulih secara signifikan pasca-meredanya tensi geopolitik Timur Tengah.
Data maritim menunjukkan bahwa pengiriman komoditas dari pelabuhan-pelabuhan utama di Timur Tengah terus merangkak naik, sehingga mengurangi kekhawatiran pelaku pasar terhadap ancaman kelangkaan stok global.
Kombinasi antara peningkatan produksi internal OPEC+, pemulihan jalur logistik laut, serta tingginya volume ekspor dari produsen non-anggota seperti Rusia membuat pasar kini dibayangi oleh ekspektasi kelebihan pasokan (oversupply).
Di sisi lain, laju pertumbuhan permintaan dari negara importir raksasa seperti China dilaporkan masih cenderung stagnan.
Sejumlah lembaga keuangan memproyeksikan harga minyak acuan dunia akan terus berada di bawah tekanan dan berpotensi menetap di kisaran rendah sepanjang paruh kedua tahun 2026 ini.









