Jakarta, infopasar.id – PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina Patra Niaga memastikan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) di seluruh wilayah Indonesia tetap stabil dan tidak mengalami kenaikan pada hari ini, Sabtu, 11 April 2026.
Kebijakan ini merupakan arahan langsung dari pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah fluktuasi harga minyak mentah global yang dipicu oleh tensi geopolitik di Timur Tengah.
Meskipun sempat beredar isu kenaikan harga di media sosial, pemerintah menegaskan bahwa informasi tersebut adalah hoaks dan meminta masyarakat untuk tetap tenang.
Hingga saat ini, harga BBM subsidi masih dipatok pada angka yang sama dengan periode sebelumnya, yakni Pertalite seharga Rp10.000 per liter dan Bio Solar Rp6.800 per liter di seluruh Indonesia.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan tambahan anggaran subsidi energi sekitar Rp90 triliun hingga Rp100 triliun untuk menahan kenaikan harga.
Langkah ini diambil guna meredam efek domino ekonomi, seperti kenaikan biaya transportasi dan harga pangan yang dapat membebani masyarakat.
Untuk jenis BBM non-subsidi, harga juga terpantau stabil mengikuti penyesuaian terakhir pada awal Maret 2026 lalu.
Di wilayah Jabodetabek, harga Pertamax (RON 92) tetap bertahan di angka Rp12.300 per liter, Pertamax Green 95 di Rp12.900 per liter, dan Pertamax Turbo di Rp13.100 per liter.
Sementara itu, operator swasta seperti Shell dan Vivo juga belum melakukan perubahan harga signifikan pada April ini, dengan Shell Super dibanderol Rp12.390 per liter dan Revvo 92 di angka Rp12.390 per liter.
Selain stabilitas harga, pemerintah mulai menerapkan kebijakan pembatasan pembelian BBM tertentu maksimal 50 liter per transaksi guna memastikan distribusi energi yang lebih merata.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menekankan bahwa stok BBM nasional di depo-depo Pertamina saat ini dalam kondisi aman dan mencukupi kebutuhan harian masyarakat.
Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pengisian berlebih atau panic buying karena pemerintah menjamin ketersediaan pasokan energi tetap terjaga melalui strategi diversifikasi impor.














