Jakarta, infopasar.id – Tekanan inflasi pada sektor pangan harian kembali membayangi isi dompet masyarakat di awal bulan ini.
Berdasarkan data pantauan harga pangan nasional per Selasa, 4 Agustus 2026, harga komoditas bawang merah ukuran sedang mencatatkan lonjakan dibandingkan periode sebelumnya.
Bahan pangan utama dapur ini sekarang diperdagangkan di kisaran rata-rata Rp60.650 per kilogram, mengalami kenaikan tajam sebesar 48,65 persen.
Kenaikan harga tersebut dirasakan langsung oleh para pedagang di sejumlah pasar tradisional tanah air.
Sejak dibukanya aktivitas perdagangan di pagi hari, pasokan komoditas hortikultura di tingkat eceran dilaporkan masih bergerak dinamis.
Banyak pedagang mengeluhkan kurangnya kestabilan distribusi komoditas antardaerah, sehingga lonjakan harga sulit dihindari meski beberapa wilayah sentra produksi sebenarnya mulai memasuki masa panen.
Kondisi sebaliknya justru terpantau di beberapa daerah lumbung pangan lokal yang mencatatkan tren pelandaian harga berkat stok yang melimpah.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya andil deflasi bulanan di beberapa kota, seperti Kota Madiun dan wilayah Lampung, yang dipicu oleh anjloknya harga bawang merah lokal akibat lancarnya arus distribusi dari daerah penyangga (hinterland).
Di daerah-daerah tersebut, harga eceran bawang merah mampu melandai hingga menyentuh kisaran Rp32.000 hingga Rp35.000 per kilogram.
Meski ada penurunan lokal di tingkat produsen daerah tertentu, ketimpangan pasokan nasional tetap membuat rata-rata harga di pasar konsumen kota besar melambung tinggi.
Kondisi ini menuntut langkah taktis koordinasi logistik pangan agar harga di pasar konsumen dapat ditekan secara merata.
Secara keseluruhan, fluktuasi awal Agustus 2026 ini menjadi pengingat penting bagi pengelolaan ketahanan pangan nasional.
Selama rantai pasok antarprovinsi belum terintegrasi secara merata, harga komoditas hortikultura yang bersifat musiman seperti bawang merah akan terus rentan terhadap guncangan harga.









