Jakarta, infopasar.id – Kenaikan harga bahan baku plastik global kini mulai berdampak nyata pada aktivitas ekonomi di tingkat pasar tradisional.
Dari informasi dihimpun, per April 2026, kenaikan harga plastik di Indonesia terjadi secara bertahap sejak akhir Februari 2026 dan melonjak drastis pada akhir Maret 2026.
Berbagai jenis plastik kemasan, mulai dari kantong kresek hingga wadah makanan, mengalami lonjakan harga yang cukup signifikan dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan pedagang kecil dan pelaku UMKM yang sangat bergantung pada plastik sebagai sarana pengemasan produk dagangan mereka sehari-hari.
Di pasar-pasar besar, harga plastik jenis PET yang biasa digunakan untuk botol minuman dan HDPE untuk kantong belanja kuat dilaporkan naik sekitar 20 hingga 30 persen.
Para distributor menyatakan bahwa pasokan bahan baku biji plastik yang tersendat menjadi faktor utama pemicu kenaikan.
Kondisi ini memaksa para pedagang plastik eceran untuk menyesuaikan harga jual mereka kepada konsumen guna menghindari kerugian yang lebih besar.
Dampak kenaikan ini sangat dirasakan oleh pedagang makanan yang sering menggunakan plastik PP untuk wadah makanan dan gelas plastik.
Selain itu, plastik LDPE yang sering digunakan sebagai pembungkus sayuran dan daging juga mengalami tren kenaikan serupa.
Para pedagang mengeluhkan margin keuntungan mereka yang kian menipis karena biaya operasional untuk pengemasan membengkak, sementara mereka sulit menaikkan harga jual makanan secara drastis.
Tidak hanya plastik kemasan makanan, material bangunan berbasis plastik seperti pipa PVC juga tidak luput dari kenaikan harga.
Para kontraktor dan toko bangunan melaporkan bahwa harga pipa air dan material konstruksi plastik lainnya merangkak naik secara bertahap.
Hal ini diprediksi akan berdampak pada meningkatnya biaya renovasi rumah atau proyek pembangunan skala kecil yang sedang berjalan di masyarakat.
Di sisi lain, produk plastik jenis PS seperti gelas dan piring styrofoam serta alat makan sekali pakai juga mengalami penyesuaian harga.
Meskipun pemerintah terus mendorong pengurangan penggunaan styrofoam, permintaan di pasar tradisional tetap tinggi karena harganya yang masih dianggap paling ekonomis dibandingkan wadah alternatif lainnya.
Kenaikan harga pada segmen ini tentu memberikan tekanan tambahan bagi para pedagang kaki lima.
Kategori plastik OTHER yang mencakup botol air galon dan plastik campuran juga ikut terpengaruh oleh fluktuasi pasar global.
Ketidakpastian kondisi ekonomi internasional dan biaya logistik yang meningkat menjadi faktor pendukung mengapa hampir seluruh kategori plastik dalam infografis jenis plastik mengalami kenaikan serentak.
Masyarakat kini dituntut untuk lebih bijak dalam menggunakan plastik dan mulai beralih ke wadah yang dapat digunakan kembali (reusable).
Pemerintah melalui instansi terkait diharapkan segera turun tangan untuk memantau stabilitas harga dan memastikan ketersediaan pasokan di pasar.
Jika tren kenaikan ini terus berlanjut tanpa kendali, dikhawatirkan akan terjadi efek domino yang memicu kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya.
Langkah edukasi mengenai daur ulang plastik juga perlu ditingkatkan sebagai solusi jangka panjang dalam mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap plastik sekali pakai yang harganya kian mahal.














