Jakarta, infopasar.id – Harga minyak mentah dunia saat ini berada di level yang cukup tinggi dengan rentang US$96 hingga US$101 per barel untuk jenis WTI dan Brent.
Lonjakan harga energi global ini mulai memicu kekhawatiran domestik terhadap stabilitas pos belanja negara.
Sebagai negara importir bersih (net importer) minyak, Indonesia sangat rentan terhadap fluktuasi harga komoditas ini karena berpotensi membengkakkan beban subsidi energi.
Kondisi fiskal Indonesia kini menghadapi tekanan yang nyata akibat tingginya harga minyak di pasar internasional tersebut.
Pemerintah dan badan terkait dipaksa untuk memperketat pengawasan APBN agar defisit tetap terjaga di bawah batas aman.
Pergerakan harga di atas US$96 per barel ini menuntut langkah mitigasi cepat, baik melalui penyesuaian kuota subsidi maupun optimalisasi penerimaan negara dari sektor non-migas.
Di sisi lain, pergerakan aset aman atau safe haven juga menunjukkan tren penguatan pada perdagangan hari ini.
Informasi dilapangan, Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) tercatat mengalami kenaikan tipis hingga menyentuh level Rp2.604.000 per gram.
Kenaikan harga emas ini mencerminkan respons investor yang cenderung mencari perlindungan aset di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tingginya inflasi sektor energi.









